Kesenian Islam dan Perubahan Zaman

alhambra-2179526_640Oleh: Doel Rohim

Membicarakan Seni dan Islam menjadi suatu hal yang menarik ditengah carut marutnya tatanan sosial masyarakat kita saat ini. Agama Islam yang menjadi agama terbesar di Indonesia, sebenarnya menjadi potensi yang dapat digunakan untuk  mewarnai dinamika perubahan sosial ditengah-tengah kita. Namun, hal itu tidak begitu kelihatan, bahkan malah sebaliknya agama Islam sering diidentikan dengan wacana kekerasan, kebencian, bahkan anarkisme yang diusung oleh beberapa oknum yang sebenarnya merubah citra Islam menjadi keras. Keterpurukan umat Islam saat ini pada dasarnya bukan masalah agama Islam yang sudah tidak relevan ditengah masyarakat kita, tetapi tidak berkembangnya wacana keislaman yang memberi pesan kedamaian dan keindahan menjadi persoalan besar kita saat ini.

Kekakuan wacana Islam seperti diungkapkan oleh Khomarudin Hidayat bisa jadi dikarenakan oleh ketidak mampuan umat Islam dalam mengelaborasi lebih jauh potensi yang ada didalam teologi umat Islam itu sendiri. Ia mencontohkan dengan mandeknya ilmu tasawuf dalam pergulatan wacana Islam menjadi bukti bahwa umat islam tidak dapat mengolah potensi yang begitu besar yang bersumber dari teologi Islam. Padahal, dalam ilmu tasawuf pesan-pesan tentang rahmatallilalamin dan kedamaian yang menyejukan pada dasarnya memperhalus ahlakhul kharimah sangat nyata didalamnya. Namun, semua itu seperti terkubur kedalam jurang yang begitu dalam, sehingga pancaran cahayanya tidak bisa ditangkap oleh manusia.

Pemahaman yang sangat sempit terhadap wacana keislaman saat ini terutama pada tataran ontologisnya, memberi dampak yang begitu luas pada laku tindakan umat Islam. Semua tindak tanduk umat Islam tidak lagi mengekpresikan nilai-nilai yang dipancarkan tuhan. Memang, untuk menggali nilai-nilai ketuhanan setiap manusia mempunyai pengelaman eksperimental masing-masing yang bergulat dalam diri. Dari hal itulah proses pencarian cahaya ketuhanan menjadi suatau yang terus menerus dilakukan hingga waktu yang tidak dapat ditentunkan.

Disamping itu wacana Islam yang hanya terfokus pada masalah hukum-hukum fiqiah dan syiasyah (politik) mengakibatkan keterkukungan wacana Islam yang sesungguhnya begitu luas tidak dapat dikejawetahkan dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu mengakibatkan pemahaman umat Islam hanya berkutat antara baik dan benar serta halal dan harom.

Hal inilah yang mengakibatkan apa yang muncul ditengah komunitas Islam menjadi sangat garing dan kering. Citra Islam menjadi sangat temperamental menjurus pada tindakan tidak rasional, dismping itu apa yang muncul dari agama Islam hanya ekspresi politis antara menguasai dan dikuasai. Sementara itu, pemahaman keislaman yang cenderung terjebak pada tataran simbolis arabisme menjadi persoalan tersendiri dalam masyarakat kita sekarang ini. Sehingga citra agama Islam menjadi menakutkan bagai seonggok pedang yang siap menebas siapapun juga.

Maka dari itu,  apa yang muncul dipermukaan saat ini dengan mengunakan lebel Islam, bisa dipastikan bukanlah Islam yang dibawakan oleh Muhamad pembawa pesan ilahiah, karna semuanya hanyalah citra-citra islam yang disebarluaskan oleh oknum-oknum tidak bertangung jawab dan semuaya tidak mempunyai basis idiologis yang bersumber pada agama Islam seutuhnya .

Kesenian dan Islam, Sebagai Gerakan Perubahan

Seperti diungkapkan diatas semakin tereduksinya wacana Islam ditengah arus perubahan yang begitu cepat ini, menuntut kita untuk berfikir keras dalam memberi tawaran sebagai bentuk sikap atas perubahan  realitas sosial. Kesenian dalam hal ini memiliki ruang yang sangat strategis dalam upaya merubah citra Islam yang kaku dan keras. Tetapi, definisi kesenian seperti apa yang dapat mendorong terciptanya perubahan sosial yang ingin kita upayakan, Mari kita diskusikan.

Terciptanya perubahan sosial kearah yang lebih baik meliputi tatanan politik, hukum, dan budaya ditengah-tengah masyrakat. Harus dibarengi dengan perubahan obyek dari sosial itu sendiri yaitu manusia. Dalam hal ini manusia yang tidak bisa terlepas dari struktur idiologi berupa agama. Sementara dengan adanya agama manusia akan diarahkan kepada tindakan sosialnya. Dari hal itulah agama mempunyai posisi  sangat penting dalam mendorong perubahan. Tetapi selama ini struktur idiologi agama terutama Islam yang ada, belum mampu mendorong pada idealita agama karna terputus akar historisnya, sehingga agama tidak dapat menggerakan kearah perubahan yang dicita-citakan. Disamping itu hegemoni idiologi  materielisme dan kapitalisme yang begitu kuat cenderung merusak kepercayaan manusia terhadap idiologi agama itu sendiri.

Perlu kiranya jalan yang dapat mendorong manusia menuju ke arah keberagamaan yang utuh (kaffah) dalam pengertian Islam. Dalam hal ini kesenian sebenarnya mempunyai potensi yang begitu besar sebagai media manusia menemukan hakikat keberagamaannya. Namun, kemandekan distribusi wacana kesenian yang berbalut agama terutama Islam semakin jarang dibicarakan. Bahkan dalam bentuk materielnya semakin jarang dipentaskan. Ketikapun ada, pementasan yang muncul terasa kering dan garing tidak sampai masuk kerelung kesadaran apalagi menjadi sebuah gerakan. Karna agama tidak lagi dijadikan sebagai pijakan proses kreatif menciptakan suatu bentuk karya seni, padahal dengan mengunakan agamalah yang nantinya akan mendorong  munculnya sebuah karya yang didalamnya mengandung  nilai-nilai keindahan  membawa pesan-pesan ketuhanan. Namun, malah sebaliknya agama dijadikan sebagai oyek komodivikasi karya sehingga yang muncul hanyalah bentuk seni yang membicarakan agama, tetapi bukan lagi seni yang menjadi “media” agama untuk mengajak menuntun manusia untuk tahu akan dirinya sebagai hamba.

Mengali lebih jauh bagaimana posisi dunia kesenian dalam kontek kehidupan manusia yang beragama. Selama ini, dunia kesenian dijadikan media untuk mengetahui tentang dirinya bahwa manusia adalah hamba dari yang maha kuasa. Seperti yang diungkapkan oleh Qurais Shihab dalam tafsir Al Misbah (QS. Al Quran ayat 30-39) yang menyatakan bahwa manusia didunia sebagai khalifah yang berarti “wakil” dalam artian wakil tuhan yang ada didunia. Posisi manusia yang bertugas dari kepanjangan tangan dari tuhan menuntut tahu atas diciptakan manusia tidak lebih hanya untuk menjadi wakil tuhan. Disamping itu diluar manusia berarti ada yang lebih besar dari pada wakil itu sendiri. Dalam hal ini posisi dunia kesenian yang sudah ditetapkan diawal hanya sebagai media untuk mengajak, memberitahu, bahwa dirinya adalah manusia yang disini memiliki peran sebagai wakil dari tuhan.

Sementara itu, kesenian dalam hal ini telah terbukti dapat mempengaruhi cara pandang  manusia dan terkait hakikat ketuhanannnya. Seperti yang dicontohkan oleh ulama terdahulu terutama wali songo yang dapat mengadaptasi nilai-nilai agama Islam kedalam symbol-simbol pewayangan, gamelan, dan berbagai bentuk kesenian tradisi yang membawa perubahan yang luar biasa dalam menanjapkan nilai-nilai ketuhanan dalam kehidupan sosial. contoh lain yang dapat dimunculkan diera sekarang seperti yang dilakukan MH. Ainun Najib dan Kiai kanjeng yang tetap konsisten mengunakan media seni dalam upaya dakwahnya.

Seni dan Islam

Sebelum jauh membicarakan bagaimana upaya kesenian sebagai media menyebarluaskan nilai-nilai keislaman dan menciptkan perubahan sosial perlu kiranya kita pahami bagaimana hubungan agama dan seni yang biasanya kita sebut dengan seni Islam ini. Pemhaman seni Islam berupa hadroh dan kaligrafi, yang berasal dari negeri asal Islam muncul adalah pemahaman yang sangat sempit berkaitan dengan seni islam. Karna seni adalah estetika keindahan dan agama islam seperti diungkapkan oleh Hamdi Salad adalah manivestasi keindahan dalam bentuk metafisis yang perlu digali sampai akar paling dalam. Dari situ agama sangat identik dengan seni itu sendiri, bahkan agama itu sendirilah  seni (estetika).

Sementara itu seperti diungkapkan oleh  Prof. Quraish Shihab dalam tulisannya yang berjudul “Seni dan Isam” menjelaskan bahwa seni Islam tidak harus berbicara tentang Islam, tidak hanya berbentuk kaligrafi dan yang lainya, karna seni Islam bisa hadir  dalam berbagai berbentuk dan cara. Yang dimaksut seni Islam menurut Shihab adalah suatu keindahan yang mengantarkan manusia kepada nilai-nilai yang luhur (ketuhanan), dan ia tidak bertentangan dengan yang hak/kebenaran. Memang, perdebatan semacam ini masih banyak terjadi ditengah-tengah  seniman yang mengsusung liberalisme kesenian, karna mereka menganggab agama menjadi semacam pembatasan bahkan candu dalam peroses penciptaan karya.

Hal inilah yang ingin dipertegas, sepeprti di ungkapkan oleh Hamdi Salad adanya agama terutama Islam bukan membatasi seni, tetapi menciptakan ruang baru yang lebih luas, karna kesenian Islam bertolak pada tiga dimensi estetika (keindahan), etika (kebijakan), dan agama (kebenaran). Memang untuk menembus ruang terjal kesenian dalam prespektif Islam yang begitu luas, akan sangat sulit ketika tidak dilandasi niat yang diwujudkan dalam bentuk praktek kesenian dengan terus mencari dan mengevaluasi bentu-bentuk kesenian sehingga menemukan hakikat keindahan yang dituju. Apalagi ditengah gempuran pemaknaan seni  yang menghegemoni  dari barat dengan liberalisasi dan sekularisasi yang diusung, mengakibatkan kesenian Islam mau tidak mau juga harus terus-menerus memperbarui sehingga, menemukan relevansinya ditengah-tengah pergulatan  wacana yang ada.

Dalam kesenian Islam pada prinsispnya terbagai menjadi dua yaitu sebagai tontonan (hiburan) dan tuntunan (dakwah). Kedua prisnsip ini yang selama ini menjadi pijakan dalam membicarakan kesenian Islam, entah itu secara konsep ataupun secara bentukya. Namun, selama ini yang muncul dalam sebuah pementasan yang mengunakan identitas keislaman seperti lembaga ataupun individu yang ada didalamnya, bentuk karya yang dapat dirasakan hanya sebagai hiburan. Hal inilah yang dapat dirasakan sekarang sebagai pengalaman subyektif, menjadikan pementasan terasa kering dan garing padahal secara konsep dan teknikal sudah begitu matang, kemudian pertanyaanya adalah apa yang sedang terjadi dalam dunia kesenian kita terutama islam sekarang. Padahal Islam mengajarkan pemaknaan yang mendalam disetiap laku dan nilai-nilai yang dikandungnya. bukan hanya terjebak pada bentuk fisikal yang hanya menawarkan kesenangan material belaka.

Kampus Islam dan Kekinian

Setiap kampus pasti didalamnya ada lembaga kesenian yang biasanya digunakan untuk mengembangkan bakat mahasiswanya dalam dunia seni. Begitupun kampus-kampus yang mengunakan identitas Islam yang menyebar di seluruh Indoensia. Adanya lembaga kesenian didalam kampus Islam biasanya digunakan untuk mengeksplor beberapa bentuk kesenian seperti, teater, music, seni rupa  dan yang lainya. Selama ini dunia kesenian di dalam kampus Islam selalu termaginalkan ketika berkontestasi dengan kampus-kampus non Islam dengan lembaga kesenian yang dimilikinya. Bahkan ketika dibandingkan dengan kampus yang fokus ke kesenian kampus Islam terasa hilang. Walaupun pernyataan ini sebenarnya tidak bisa digeneralisasi disetiap kampus Islam. Yang jelas posisi kampus Islam dalam konteks kesenian selama ini belum mampu mewarnai dinamika kesenian yang telah mapan.

Beberapa kelompok kesenian yang berada pada naungan kampus Islam sebenarnya sudah memiliki landasan filosofis terkait orientasi kesenian yang akan diusung. Seperti yang dilakukan oleh Teater ESKA dan Sanggar NUUN yang berada pada naungan kampus UIN Sunan Kalijaga. Kedua lembaga kesenian kampus ini  sebenarnya  sudah merumuskan bagaimana hubungan kesenian dan trandensi ketuhanan yang menjadi identitas kampus Islam.

Sejak tahun 80 an bahkan jauh sebelumnnya Terkait konsep  kesenian Islam sebenarnya sudah lama menjadi perbincangan yang intensif dari lembaga kesenian Teater Eska yang tumbuh di jangtungnya kesenian Yogyakarta ini. Bahkan Teater Eska selama ini dijadikan kiblat dalam seni Teater yang didalamnya mengandung nilai-nilai Islam. Suatu pencapaian yang tidak mudah ditengah arus wacana tentang seni yang dijauhkan dengan nilai-nilai agama. Tetapi apa yang dilakukan oleh teater Eska dan Sanggar Nuun selama ini menjadi kerja kebudayaan yang sangat berguna bagi wacana kesenian Islam sampai kapanpun juga.

Namun, cepatnya gerak perubahan zaman yang terjadi saat ini, merasuk kedalam lembah-lembah kesadaran dan jantung kebudayaan kita, sehingga kecenderungan untuk merusak tatanan yang sudah terbentuk ini sangat mungkin terjadi. Apalagi ditengah arus informasi yang masif dengan berbagai bentuk kebencian dan kebohongan yang diproduksi begitu liarnya. Wacana kesenian Islam yang sudah dibangun dengan segala upaya runtuh dan tidak menemukan relevansinya. Memang seperti itulah gerak perubahan yang tak pandang bulu siapapun akan digilas ketika perubahan tidak disikapi secara bijaksana.

Kondisi seperti itulah yang dirasakan saat ini, bagaimana kesenian Islam dengan berbagai isinya sudah dianggap tidak lagi relevan ditengah arus perubahan. Ketikapun ada, kesenian Islam hanya dijadikan sebagai intertaiment (hiburan) yang didalamnya tidak serat makna. Karna telah terjadi  penyempitan makna kesenian Islam sudah tidak terbantahkan lagi adanya. Kesenian Islam hanya tertuju pada simbol-simbol bentuk yang disitu tidak ada korelasinya dengan prinsip dasar kesenian Islam yang sudah para pakar rumuskan.

Pertanyaanya yang muncul kemudian apakah pernyataan ketidakrelevansian kesenian Islam saat ini karna Islam sebagai agama sudah tidak menemukan rahmatal lilalaminnya, atau kita sebagai manusia sudah terjebak tidak dapat mengali nilai-nilai keislaman kemudian membungkusnya dengan kesenian itu sendiri.  Hal inilah yang patut kita pertanyakan pada diri kira sendiri, sebagai lembaga ataupun individu masing-masing. Karna pemahaman ini dirasa penting untuk direnungkan bersama, karna kita tumbuh, lahir, berkembang, dewasa di subkultur budaya agama Islam sebagai pijakan kehidupan kita.

Akan sangat naïf ketika sudah tidak membutuhkan agama dalam merenungi hakikat kemanusiaanya, apalagi suatu lembaga kesenian yang tumbuh besar dilingkungan kampus yang berlabelkan Islam sebagai identitasnya. hal inilah yang perlu kita diskusikan bersama, ditengah wacana Islam yang sudah dijelaskan diatas, bagaimana upaya kita merumuskan atau mendefinisikan ulang seperti apa kesenian Islam dalam konteks kekinian. Ketikapun definisi terkait kesenian islam sudah dianggap usang, harusnya kita mempunyai argumen yang sama kuatnya untuk melegitimasi bahwa defenisi tentang kesenian Islam yang sudah dibangun itu tidak relevan dengan zaman. Celakanya ketika kita menggap apa yang sudah dirumuskan oleh para orang tua perumus kesenian secara filosofis  entah ini dibidang teater, seni rupa, music, tidak menemukan relevansinya lagi, dapatkah kita hari ini menemukan suatu landasan atau rumusan yang baru terkait kesenian Islam itu sendiri. Bukan malah mencari jalan pitas, dengan menganak pada tradisi kesenian yang selama ini digandrungi oleh masyarakat luas yang berasal dari barat.

Perlunya ruang untuk membahas lebih jauh dari seklumit pembacaan diatas yang sangat dangkal ini, menjadi keharusan dari kita semua. tanpa itu akan sulit muncul diskursus baru terkait wacana kesenian Islam yang selama ini sudah kita tinggalkan. Dari hal tersebut mari kita diskusikan lebih lanjut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Log in