Musik dan Kompleksitas Apik di Dalamnya

Musik sebagai media penyampai pesan dalam bentuk bunyi yang teratur memiliki keterkaitan dengan psikis manusia. Sebagaimana dikatakan Muhammad Irsyadul Ibad, pemateri diskusi Afternuun School (15/3) di kontrakan Sanggar Nuun, musik adalah sesuatu yang direspon oleh otak manusia. Misalnya musik ilustrasi film horor yang dibuat untuk memperkuat kesan seram di dalamnya. Untuk membuktikannya, Ibad mengajak kita menonton film horor tanpa musik ilustrasi, terbukti beberapa peserta diskusi menyetujui akan berkurangnya kesan seram tersebut.

Dengan temuan di atas, seseorang mampu mengondisikan respon manusia melalui stimulus-stimulus yang tepat. Hal ini menarik ketika dikaitkan dengan salah satu studi kasus yang dilakukan J.B Watson dan R. Raynor, dua ahli psikologi perilaku (behaviourist psychology) di tahun 1920, tentang respon ketakutan seorang balita terhadap semua benda berwarna putih setelah mendengar suara keras.

Keterkaitan musik dengan psikis manusia diperkuat dengan sistem kerja amigdala sebagai bagian dari otak yang mengatur kerja emosi. Tak heran jika sekarang muncul terapi musik sebagai salah satu jalan untuk mengondisikan manusia merasakan emosi-emosi tertentu.  Di luar itu, keberadaan aspek visual semakin mempertajam makna yang ingin disampaikan oleh musik.

Bukan tanpa alasan jika seorang penyanyi sekelas Agnez Mo kerap mempertunjukkan atraksi panggung yang enerjik, Ibad memaknai itu sebagai teknik merayu penonton untuk menikmati permainannya, ketika penonton gagal menikmati alunan suara sang artis mereka beralih menikmati atraksi panggungnya. Hal ini bisa dijadikan rujukan Sanggar Nuun untuk menyelenggarakan pementasan yang harmonis secara audio, dan menawan secara visual, tanpa melupakan segmentasi penonton yang dituju.

Perbincangan mengenai musik dan psikis manusia mulai merambah ke wilayah sakralitas. Alih-alih menafsirkan kata tersebut secara normatif, Ibad justru membaginya ke dua wilayah tafsir, yaitu ‘dimaknai atau dirasakan’ dan sakralitas musik adalah sesuatu yang dirasakan. Bebunyian adalah yang pertama-tama direspon bayi, ia meresponnya sejak di dalam kandungan untuk mengenali lingkungan di luar dirinya, menurut Ibad hal tersebut sangat sakral.

Lebih jauh, Ibad mengajak kita ‘bermain nakal’ dengan mencoba mendengarkan musik serenade (musik sore) di pagi hari, seperti musik jazz yang kita coba alunkan di pagi hari. Ia bertaruh, hal pertama yang dirasakan peserta diskusi adalah mengantuk. Menurut penulis, hal itu mencerminkan keyakinannya terhadap kompleksitas musik yang apik. ‘Kompleks’ merujuk pada keterkaitan unsur estetisnya dengan psikis manusia dan ‘apik’ mengacu pada nilai melodis-ritmis yang membentuk harmonisasi suara yang dihasilkan.

Salah satu peserta, Milatun Nafiah, mengaku telah membuktikan hal itu keesokan paginya dan menemukan fakta bahwa ia kembali mengantuk setelah satu jam mendengarkan musik jazz tanpa henti. Terlepas dari kalimat sugestif Ibad, efektif tidaknya ‘permainan nakal’ di atas tetap dipengaruhi oleh kondisi seseorang ketika mendengarkannya. Seseorang yang dengan sengaja mendengarkannya dan terlalu berharap untuk mengantuk, sangat mungkin menemukan hasil yang tak sesuai harapan. Tapi seseorang yang sedang dalam kondisi santai dan tak begitu acuh dengan musik tersebut justru mengantuk. Kesimpulannya, tak ada tolok ukur pasti mengenai keberhasilan permainan tersebut.

Berbicara mengenai tolok ukur, diskusi akhirnya merambah ke wilayah kecerdasan. Bagi Ibad, tidak ada tolok ukur pasti bagi kecerdasan musikalitas seseorang, sayangnya ia tak menyertakan alasan dibalik argumennya tersebut, namun sebelum diskusi ditutup, Ibad berpesan bahwa untuk menambah ketajaman musikalitas kita harus lebih sering mendengarkan berbagai macam genre musik dari beragam musisi lintas budaya.

* Tulisan ini adalah pengulasan ulang dari diskusi Afternuun School perihal Psikologi Musik di Kotrakan Sanggar Nuun, tanggal 15 maret 2016, dengan pemateri Muhammad Irsyadul Ibad (akademisi psikologi dan penikmat musik).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Log in