TANWIN #2; “SEBELUM BANDANG DATANG”

       Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya.” Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS.11:41)

Bandang datang! Apa yang akan kau lakukan? Peringatan telah ditulis ribuan tahun lalu, telah dibaca di setiap masa sejak pertama diturunkan. Nuh mengajak umatnya untuk menaiki sebuah bahtera agar selamat dari banjir besar. Apakah ini hanya cerita pengantar tidur? Cerita yang membawa pendengarnya ke dalam mimpi serta angan tentang keindahan surga. Tidak! Peringatan masih dibaca dan cerita tetap ada meski dimensinya dan atau dalam konteks yang berbeda.

Dalam ranah kebudayaan, bandang bermakna luas. Setiap individu baik dalam (mikrokosmos) atau di luar (makrokosmos) dirinya, akan menghadapi bandang—sesuatu yang mengalir dengan muatan dan massa yang berat sehingga menyeret apapun yang dilaluinya. Membaca keadaan saat ini, bandang datang dari segala arah.; berita-berita tidak benar, saling hujat, menganggap paling benar, konflik kepentingan, menghalalkan nyawa atas nama agama, perang, dst. Hal-hal demikian mampu menyeret siapa pun yang tidak mendengar peringatan lagi tidak siap.

Bismillahi Majreeha wa mursaaha.

Sebelum bandang datang, persiapan adalah keniscayaan. Siapkan bahtera ke dermaga, perbaiki navigasi, sulam layar dan sambung tali temali. Bandang tak pandang sesiapa, setiap individu adalah bahtera bagi dirinya sendiri. Kesadaran adalah kunci, ingat dan waspada harus tertanam dalam sanubari. Kumpulkan sanak saudara, kerabat dan sahabat untuk berbenah, bekal untuk perjalanan panjang.

TAWARAN PEMBACAAN

Tanwin serupa bunyi “nun” mati, namun tetap hidup dalam rangkaiannya. Bertemu apa pun di depannya, ia tetap ada dan meng-ada, tak akan mati. Tanwin membaca realitas yang melingkarinya lalu diakatualisasikannya melalui suara dan bunyi. Syair-syair lama, peringatan-peringatan yang tertulis menjadi nafas dalam laku ini.

Menjadi wadah untuk bergerak dan bergesekan dalam kesenian dan kebudayaan, Tanwin merupakan sikap yang diambil Sanggar Nuun sekaligus respons terhadap realitasnya. Melalui beberapa komposisi musik dan pembacaan syair-syair, Sanggar Nuun mengejawantah dari keresahan menjadi tawaran nilai.

“Tanwin #2; Sebelum Bandang Datang” akan dilaksanakan pada 9 Juni 2017 di Depan Selasar Laboratorium Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan 10 Juni 2017 di Pasar Ramadhan Kampung Salakan, Potorono, Bantul pada pukul 20.30 (sehabis tarawih)-selesai. Terbuka untuk umum, pementasan ini lebih khusus mengajak jama’ah seusai Tarawih untuk bergabung. Ini merupakan pementasan Tanwin kedua setelah pada Juni 2013 lalu dipentaskan di Halaman Laboratorium Masjid UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Salam Budaya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Log in