Sejauh Manakah Jiwa Kemanusiaanmu?, Essay Kritik Film “Rashomon”

Wikipedia mencatat Rashomon adalah film Jepang yang disutradarai oleh Akira Kurosawa. Film yang didasarkan pada dua karangan fiksi Akutagawa Ryunosuke ini rilis pada 25 Agustus 1950. Dari segi cerita, sebenarnya tidak begitu tabu dan iconic karena banyak film lain menyuguhkan tema hampir serupa. Tapi, saat film ini dihadirkan kembali dalam ruang #PekanFilm di forum diskusi Afternuun School. Apa saja perbincangan yang menjadikannya istimewa dalam diskusi rutin para pegiat Sanggar Nuun?. Mari kita lanjutkan.

Film Rashomon menyuguhkan konsep menarik, selain diperankan para aktor handal, film tersebut  menghadirkan empat sudut pandang dalam menjelaskan tragedi pemerkosaan dan pembunuhan. Dimulai dari pernyataan saksi pertama hingga pernyataan arwah korban terbunuh yang merasuki tubuh sang saksi wanita, semuanya memberikan kesaksian berbeda. Satu hal pasti, masing-masing kesaksian relatif koheren dengan ‘kepentingan’ setiap karakter.

Hampir semuanya menyuguhkan cerita yang membuatnya ‘tampak bersih’ kecuali karakter bandit yang tak berupaya membela diri tapi cenderung menginginkan keseganan akan reputasinya. Semua cerita saling menuduh satu sama lain hingga menimbulkan ambiguitas dalam pencarian kebenaran di persidangan hukum. Untuk kebutuhan cerita dalam film super lawas, ini merupakan konsep yang sangat menarik. Tidak heran setelah itu banyak sutradara yang meniru garapan Akira Kurosawa ini, bahkan sampai di Hollywood.

Sebelum membahas lebih banyak, mari kita kenalan dulu dengan beberapa pemerannya. Sang Bandit (Tajomaru) diperankan oleh Toshiro Mifune, Sang Samurai (Takehiro) diperankan oleh Masayuki Mori, istrinya (Masako) diperankan oleh Machiko Kyo dan Si Tukang Kayu diperankan oleh Takashi Shimura. Empat orang tersebut merupakan karakter utama film Rashomon. Begitulah kata Wikipedia, karena pada dasarnya kami tidak tahu nama-nama tokoh dalam film tersebut kecuali Si Bandit yang disebutkan dalam dialog, selebihnya tidak pernah ada dalam dialog memanggil nama pemeran yang lain.

Sementara dari segi akting, kami pikir ‘keaktoran’ mereka sangat wajar untuk dikagumi. Dengan catatan kami memposisikan diri sebagai penonton teater, atau dengan kata lain, akting mereka ‘terlalu teatrikal’ untuk kebutuhan film. Menurut kami, penekanan gerak dan vokal antara teater dan film jauh berbeda. Akting teater, dengan keadaan teknisnya yang tidak didukung teknologi secanggih film, tentu saja membutuhkan intensitas keaktoran yang lebih tinggi. Ambillah contoh saat aktor A memainkan adegan jatuh, tentu ia membutuhkan gerak, vocal power dan ekspresi yang lebih dominan dibanding kebutuhan pengadeganan dalam film yang mengusung keunggulan fitur kamera.

Masih membicarakan teknis, emosi yang ditampilkan masing-masing tokoh sudah cukup meyakinkan kami. Ketika Si Bandit dan Sang Samurai berkelahi, spontan kami tertawa terbahak-bahak hingga muncul celetukan, “Wah, ora samurai banget gelute” (wah, bukan gaya samurai sekali teknik berkelahinya). Tapi saat diskusi kemudian, muncullah kesadaran dimana kami berpendapat: mungkin sebenarnya ‘gelut‘ yang terjadi di dunia nyata memang seperti itu realitanya. Mungkin kami terlalu banyak menonton film dengan adegan duel konvensional khas pasar yang disajikan secara heroik, dramatis lagi mempesona melalui pelbagai efek visual.

Sehingga alam bawah sadar kami terbentuk seperti itu, dan melewatkan kesadaran tentang kejadian nyata, bilamana terjadi perkelahian yang sebenar-benarnya yang diselimuti emosi yang kompleks mungkin benar akan terjadi seperti yang diperankan oleh aktor tersebut.

Akira, dalam film ini  mengawalinya dengan adegan yang kami sebut dengan “sebuah pertanyaan yang menyayat” yakni dimana ketiga tukang kayu dan pengemis yang berdiri di depan gerbang “Rashomon” sebelum akhirnya berujung pada cerita kilas balik, salah satu dari mereka bertanya tentang sebuah kegelisahan “Aku jadi takut kepada manusia, apakah sekarang benar-benar sekejam itu?” kemudian barulah dijawab dengan pertanyaan apa yang sebenarnya terjadi dan mulailah cerita panjang tentang peristiwa tersebut.

Hal yang menukik ke dalam sanubari manusia, ketika kita disadarkan oleh film ini yang berbicara tentang sebuah hasrat manusia. Jiwa manusia yang makin kesini makin dipertanyakan. Kitra sebagai manusia cenderung tidak mau untuk disalahkan, tidak mau dianggap gagal, tidak mau dianggap nista dan sebagainya. Hal ini tercerminkan dalam adegan panjang kilas balik cerita dari keempat narator. Yang selalu menarik dari Akira adalah, dia selalu menawarkan film yang berisi nilai filosofis tapi dengan bentuk adegan yang dekat dengan keseharian serta perspektif yang sederhana. Dan berhasil, menurut kami.

Hal itu kembali diingatkan lagi oleh Akira kepada kita, dalam adegan terakhir yang menurut kami adalah sebagai kesimpulan dari film tesebut. Dimana saat mereka bertiga (tukang kayu dan pengemis) bercerita terdengarlah suara tangisan bayi dibalik pintu. Akhirnya pengemis 1 (sebut saja demikian) pergi menjumpai bayi tersebut yang hanya sebatang kara, mengambil kimono kecil yang menyelimuti bayi tersebut. Lalu proteslah temannnya yaitu si  tukang kayu dan pengemis yang satunya, karena melihat kelakuan temannya yang tidak menolong si bayi tersebut tetapi malah mengambil kimononya.

Si pengemis 1 itupun tidak langsung menerimanya, tapi balik memberikan protes kepada protes si tukang kayu yang sebelum itu, dia menceritakan kejadian yang sebenarnya atas peristiwa pembunuhan dan pemerkosaan yang ia sembunyikan dihadapan hakim karena merasa takut untuk terlibat. Si pengemis 2 semakin merasa bersedih karena ia benar-benar menjumpai kengerian hati manusia di hadapannya langsung. Benarkah, manusia sekarang seperti ini yang terjadi. Yang berberda dengan cerita sebelumnya adalah, si pengemis 1 tidak sungkan untuk mengidentifikasi dirinya sebagai orang jahat, dimana dalam hal ini dia tidak merasa bersalah karena mengambil kimono si bayi untuk dijadikannya uang. Dan ia tidak segan-segan untuk mengakui kebenaran yang ada bahwa dia orang yang rakus, jahat. Bersamaan dengan itupun, si tukang kayu merasa punya pertanggung jawaban atas kejujuran jiwa manusia yang ia miliki. Akhirnya ia merasa paling bertanggung jawab atas bayi malang yang ia temukan itu.

Menurut kami, apa-apa yang dihadirkan Akira di film tersebut masih sepadan dengan apa-apa yang terjadi dan sering kita alami saat ini. Jiwa manusia mulai dipertanyakan kembali. Banyak hal yang bisa di tarik dari film ini. Siapapun kamu dan dengan apapun kamu bersinggungan, kamu akan senantiasa dirundungi pertanyaan, sejauh manakah jiwa kemanusiaanmu?

Selamat menonton. Asli, film ini layak Anda tonton. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Log in